G.M. Sudarta
G.M. Sudarta
Nama saya Geradus
Mayela Sudarta,
biasa disingkatG.M.Sudarta. Saya
lahir pada hari Rabu Kliwon di Desa Kauman, Klaten, Jawa Tengah tepatnya pada
20 February 1948. Saya putra bungsu dari pasangan Hardjowidjoyo dan Sumirah.
Keluarga besar saya, separo Katolik dan
separo Islam. Ayah saya Islam Kejawen atau kebatinan, sedangkan ibu saya
muslimah. Sejak kecil sebenarnya saya sudah bersyahadat, tapi dalam bahasa
Jawa. Meski kemudian ketika menjelang remaja saya dipermandikan (dibaptis). Ini
mungkin karena pengaruh adik-adik ayah (paman) yang beragama Katolik. Saya
sering ikut ke Gereja bersama mereka. Karena seringnya ke Gereja, saya pernah
berujar, “Mendengarkan lagu Gregorian itu sama indahnya seperti mendengar
Adzan.”.
Walaupun saya sudah dibaptis dan sering diajak ke
Gereja, namun saya seperti tidak beragama Kristen Katolik saja, saya juga
merasa sudah begitu akrab dengan agama Islam. Ibu dan saudara-saudara ibu, juga
berasal dari keluarga muslim, jadi dapat saya katakan saya sudah begitu akrab
dengan Islam.
Ketika saya di SMP saya bahkan pernah
menjadi Ketua Rating PII (Pelajar Islam Indonesia) di sekolah. Ketika SMA, saya
terlbat dalam pendirian Teater Akbar bersama Deddy Soetomo. Kebetulan, anggotanya
kebanyakan dari PII. Teater yang saya dirikan sering menjuarai Festival HSBI
(Himpunan Seni Budaya Islam).
Teater kami sering membawakan naskah-naskah karya
Arifin C. Noer, salah satunya adalah naskah yang berjudul Amniah.
Naskah ini sering kami pentaskan. Bahkan dalam Kongres PII, Teater Akbar
menjadi juara pada festival seninya.
Akibat kemenangan ini, sebuah surat
kabar terbitan Semarang menulis, tidak semua anggota Teater Akbar orang muslim.
Posisi saya dalam teater ini menjadi serba salah. Padahal saya hanya penata
panggung dan kadang-kadang figuran. Pernyataan surat kabar ini pastilah
ditujukan kepada saya.
Bagi saya, ini bukan masalah, dalam hal
ini saya beruntung dibela oleh sastrawan O’Galelano. Menurutnya yang penting
adalah estetika nya. Muslim atau bukan, yang penting bagus.
Selain aktif di dunia teater, saya juga
bergaul dengan teman-teman muslim. Dari sanalah saya mulai membaca buku tentang
keagamaan. Selain itu, saya juga membaca buku-buku Tan Malaka dan sejenisnya,
serta buku yang lebih bersifat eksistensialis. Saya selalu bertanya, sehingga
saya makin berfikir untuk mencari sebab dan akibat kehidupan.
Saya hidup untuk apa ? apalagi anggota
Pelukis Rakyat banyak mempengarushi saya, sehingga saya bersimpati pada
perjuangan mereka, karena ada sebagian anggota yang ikut menjawab pertanyaan
saya. Tapi, itu tidak begitu lama. Akhirnya saya terus berfikir untuk mencari
tahu. Saya pernah berfikir, Tuhan adxa atau tidak ada, tidak menjadi soal.
Untuk menjawab itu, saya sering pergi kebeberapa makan
Sunan (Wali). Saya sering tidur di makam Syekh
Maulana Yusuf di Banten, makam Sunan Kudus,
bahkan sampai ke Gresik. Namun, pertanyaan itu makin gencar dalam hati saya,
walaupun saya sadar tidak akan terjawab. Saya banyak mencari-cari terutama
hal-hal yang musykil.
Perjalanan ziarah itu bukanlah untuk
mencari apa-apa. Bahkan saya tidak tahu untuk apa. Pertanyaan itulah yang
menuntun saya mengunjungi atau menziarahi makam para sunan, bahkan sampai tidur
disana. Yang jelas saya mencari pertanyaan yang tidak pernah terjawab tentang
Tuhan.
Dari perjalanan mengunjungi makam para
wali itu, saya pernah mengalaim kejadian aneh. Di saat saya mengunjungi makan
Syekh Maulana Yusuf di Banten, saya di datangi seorang Arab berbaju putih dan
bersorban, dengan logat yang kaku ia berbicara tentang nabi Isa AS. Orangnya
pintar sekali.
Selanjutnya orang itu menjabat tangan
saya, anehnya bau wanginya selama satu minggu tidak hilang, walaupun sering
saya cuci. Dari situ saya mencari orang itu sampai ke Kudus dan tempat lain.
Saya mencari orang itu tapi tidak ketemu.
Walaupun saya bukan seorang muslim, namun mengunjungi
makam para wali sangat berarti bagi saya. Selain mencari jawaban atas hakikat
hidup, sekaligus juga untuk mencari inspirasi dalam usaha kerja saya sebagai
sorang kartunis (Aktif dalam Harian Kompas http://www.kompas.co.id , Red).
Dari perjalan ziarah inilah, saya
menemukan kedamaian dan ketenangan. Banyak hal yang saya temukan. Yang jelas
saya kini mendapatkan ketenangan. Walaupun saya masih dalam tahap mempelajari
Islam, namun saya sudah mendapatkan karunia itu. Oleh Tuhan saya dititipi
sepasang anak kembar.
Dari semua itu semakin menyadarkan saya,
bahwa pegangan yang sederhana tetapi mempunyai kekuatan yang luar biasa adalah
agama. dan doa kita itu pasti diterima dan dikabulkan Tuhan.
Agama, inilah jawaban yang saya terima
dari perjalanan saya mengunjungi makam para wali untuk mencari hakikat hidup.
Saya benar-benar disadarkan akan pentingnya sebuah pegangan hidup; Agama – yang
menjadi pegangan mengarungi lautan kehidupan.
Masuk Islam
Dari apa yang telah dititipkan Tuhan
pada saya — sepasang anak kembar — saya kembali disadarkan oleh rasa
keberagamaan saya. Aryo Damar, anak saya yang laki-laki, sejak berusia tiga
bulan sampai sekarang, bila ada adzan Magrib di televisi, ia tidak mau
melepaskan diri dari depan kaca televisi. Kalaupun sedang menangis, ia berhenti
dahulu untuk mendengarkan adzan. Kejadian ini saya rekam dan saya abadikan
dalam kaset video. Kelakuan anak saya ini semakin memperingatkan dan membuat
saya yakin bahwa pegangan paling sederhana dan mempunyai kekuatan adalah Agama.
Akhirnya, saya putuskan untuk menerima
apa yang terjadi pada diri saya. Saya mengikrarkan diri menjadi seorang muslim,
dengan kata lain menerima Islam. Perpindahan saya menjadi seorang muslim ini
disambut baik oleh teman-teman saya dan mereka memberi beberapa buku agama,
tafsir Al-Qur’an dan buku Fiqih Sunnah karya SAayid Sabiq lengka 12 jilid.
Bahkan yang aneh ada teman saya yang memberikan AL-Qur’an jauh sebelum saya
mengucapkan dua kalimah syahadat. Mungkin ia sudah mendapat firasat.
Selain itu, banyak pula teman-teman saya
yang menyatakan penyesalannya atas keputusan saya itu. Mereka menyesali
perubahan yang terjadi pada diri saya. Namun itu tidak membuat saya mundur.
Saya tetap berkeyakinan untuk menjadi seorang muslim.
Islam bagi saya adalah agama yang
memiliki toleransi paling tinggi. Dengan Islam saya menjadi lebih mantap
memastikan pegangan hidup. Kini saya banyak belajar dari istri untuk mendalami
agama terutama belajar Al-Qur’an. Selain kepada teman-teman saya juga sering
mendiskusikan dengan para tokoh agama . Hal ini saya maksudkan untuk
memantapkan keimanan saya.

Komentar
Posting Komentar