Konsep Ketuhanan Dalam Islam
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah
melancarkan dalam menyelesaikan makalah mata kuliah Penidikan Agama Islam yang
berjudul “Konsep Ketuhanan dalam Islam.” dapat selesai seperti waktu yang telah
kami rencanakan. Tersusunnya karya ilmiah ini tentunya tidak lepas dari
peran serta berbagai pihak yang telah memberikan bantuan secara materil dan spiritual,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu penulis mengucapkan
terima kasih kepada :
1. Bapak Dosen pengasuh mata kuliah
Pendidikan Agama Islam Universitas Telkom
2. Orang tua yang telah memberikan
dukungan dan bantuan kepada penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan
3. Teman-teman yang telah membantu
dan memberikan dorongan semangat agar makalah ini dapat kami selesaikan
Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang
membalas budi baik yang tulus dan ihklas kepada semua pihak yang penulis
sebutkan di atas. Tak ada gading yang tak retak, untuk itu kamipun
menyadari bahwa makalah yang telah kami susun dan kami kemas masih memiliki
banyak kelemahan serta kekurangan-kekurangan baik dari segi teknis maupun
non-teknis. Untuk itu penulis membuka pintu yang selebar-lebarnya kepada semua
pihak agar dapat memberikan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan
penulisan-penulisan mendatang. Dan apabila di dalam makalah ini terdapat
hal-hal yang dianggap tidak berkenan di hati pembaca mohon dimaafkan
Bandung, 6 September 2013
Hammam Abdurrohman
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Manfaat
BAB II PEMBAHASAN
A. Filsafat Ketuhanan Dalam Islam
B. Pembuktian Wujud Tuhan
C. Proses Terbentuknya Iman
D. Keimanan Dan Ketakwaan
E. Golongan - Golongan Dalam Islam
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Konsep ketuhanan dalam islam mulai muncul setelah wafat-Nya Rasulullah Muhammad
SAW. Karena muncul
beberapa aliran yang sifatnya tradisional dan modern. Sering sekali terjadi
pendapat dan tafsiran terhadap Al-quran dan Hadits. Ada yang melihat secara
tekstual dan ada yang melihat secara kontekstual.
Dalam islam konsep ketuhanan merupakan hal utama dan paling awal
yang harus diperbaiki karena itu merupakan pondasi yang menopang kehidupan
keislamannya nanti. Pondasi itu harus benar-benar kuat dan kokoh karena kalau
tidak itu akan mengurangi hakekat keislaman seorang manusia.
Pembuktian wujud tuhan seorang islam atau pembuktian wujud Allah
sangatlah susah karena tidak ada yang pernah dan bisa melihat Allah tapi hal
yang harus kita ketahui bahwa manusia tidak mungkin bisa ada tanpa pencipta,
dunia dan alam ini tidak mungkin bisa ada tanpa pencipta.Tidak mungkin semua
hal itu bisa ada tanpa adanya sang pencipta. Dan penciptanya itu adalah Allah.
Manusia, hewan, dan alam ini adalah akibat sedangkan akibatnya adalah Allah
SWT.
Keimanan seseorang tumbuh dari lingkungan, seorang anak yang
lahir dari keluarga yang bagus ibadahnya kemungkinan besar ibadahnya juga
bagus, keimanan akan tumbuh dengan baik ketika kita pelihara, harus ada
pembiasaan dalam melakukan ibadah.
Beriman
kepada Allah tidak hanya sekedar mengucapkan tapi harus dikuatkan dalam hati
dan dibuktikan lewat perbuatan. Perbuatan yang kami maksud adalah perbuatan
yang sesuai dengan ajaran agama islam.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Seperti apakah filsafat ketuhanan dalam islam ?
2. Bagaimana pembuktian wujud tuhan dalam islam ?
3. Bagaimana proses terbentuknya iman ?
4.Bagaimana keimanan dan ketaqwaan seseorang ?
5. Ada berapa golongan - golongan dalam Islam ?
C. MANFAAT
1. Mengetahui filsafat ketuhanan dalam islam
2. Mengetahui pembuktian wujud tuhan dalam islam
3. Mengetahui proses terbentuknya iman
4. Mengetahui keimanan dan ketaqwaan seseorang
5. Mengetahui golongan - golongan dalam Islam
BAB II
PEMBAHASAN
Konsep Ketuhanan Dalam Islam
1. Filsafat Ketuhanan dalam Islam.
Perkataan ilah, yang
diterjemahkan “Tuhan”, dalam Al-Quran dipakai untuk menyatakan berbagai obyek
yang dibesarkan atau dipentingkan manusia. Tuhan (ilah) ialah
sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa,
sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai oleh-Nya. Dalam ajaran Islam
diajarkan kalimat “la ilaaha illa Allah”. Susunan kalimat tersebut dimulai
dengan peniadaan, yaitu “tidak ada Tuhan”, kemudian baru diikuti dengan
penegasan “melainkan Allah”. Hal itu berarti bahwa seorang muslim harus
membersihkan diri dari segala macam Tuhan terlebih dahulu, sehingga yang ada
dalam hatinya hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah.
Sejarah Pemikiran Manusia tentang Tuhan
- Pemikiran Barat
Yang dimaksud konsep Ketuhanan menurut pemikiran manusia adalah konsep yang
didasarkan atas hasil pemikiran baik melalui pengalaman lahiriah maupun
batiniah, baik yang bersifat penelitian rasional maupun pengalaman batin. Dalam
literatur sejarah agama, dikenal teori evolusionisme, yaitu teori yang
menyatakan adanya proses dari kepercayaan yang amat sederhana, lama kelamaan
meningkat menjadi sempurna. Teori tersebut mula-mula dikemukakan oleh Max
Muller, kemudian dikemukakan oleh EB Taylor, Robertson Smith, Lubbock dan
Javens. Proses perkembangan pemikiran tentang Tuhan menurut teori evolusionisme
adalah sebagai berikut:
- Dinamisme
Menurut paham ini, manusia sejak zaman primitif telah mengakui adanya
kekuatan yang berpengaruh dalam kehidupan. Mula-mula sesuatu yang berpengaruh
tersebut ditujukan pada benda. Setiap benda mempunyai pengaruh pada manusia,
ada yang berpengaruh positif dan ada pula yang berpengaruh negatif.
- Animisme
Masyarakat primitif pun mempercayai adanya peran roh dalam hidupnya. Setiap
benda yang dianggap benda baik, mempunyai roh. Oleh masyarakat primitif, roh
dipercayai sebagai sesuatu yang aktif sekalipun bendanya telah mati.
- Politeisme
Kepercayaan dinamisme dan animisme lama-lama tidak memberikan kepuasan,
karena terlalu banyak yang menjadi sanjungan dan pujaan. Roh yang lebih dari
yang lain kemudian disebut dewa.
- Henoteisme
Politeisme tidak memberikan kepuasan terutama terhadap kaum cendekiawan.
Oleh karena itu dari dewa-dewa yang diakui diadakan seleksi, karena tidak
mungkin mempunyai kekuatan yang sama. Lama-kelamaan kepercayaan manusia meningkat
menjadi lebih definitif (tertentu). Satu bangsa hanya mengakui satu dewa yang
disebut dengan Tuhan, namun manusia masih mengakui Tuhan (Ilah) bangsa lain. Kepercayaan satu
Tuhan untuk satu bangsa disebut dengan henoteisme (Tuhan Tingkat Nasional).
- Monoteisme
Kepercayaan dalam bentuk henoteisme melangkah menjadi monoteisme. Dalam
monoteisme hanya mengakui satu Tuhan untuk seluruh bangsa dan bersifat
internasional. Bentuk monoteisme ditinjau dari filsafat Ketuhanan terbagi dalam
tiga paham, yaitu: deisme, panteisme, dan teisme.
Evolusionisme dalam kepercayaan terhadap Tuhan sebagaimana dinyatakan oleh
Max Muller dan EB. Taylor (1877), ditentang oleh Andrew Lang (1898) yang
menekankan adanya monoteisme dalam masyarakat primitif. Dia mengemukakan bahwa orang-orang
yang berbudaya rendah juga sama monoteismenya dengan orang-orang Kristen.
Mereka mempunyai kepercayaan pada wujud yang Agung dan sifat-sifat yang khas
terhadap Tuhan mereka, yang tidak mereka berikan kepada wujud yang lain.
2. Pemikiran Umat Islam
Pemikiran terhadap Tuhan
yang melahirkan Ilmu Tauhid, Ilmu Kalam, atau Ilmu Ushuluddin di kalangan umat
Islam, timbul sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW. Secara garis besar, ada aliran
yang bersifat liberal, tradisional, dan ada pula yang bersifat di antara
keduanya. Sebab timbulnya aliran tersebut adalah karena adanya perbedaan
metodologi dalam memahami Al-Quran dan Hadis dengan pendekatan kontekstual
sehingga lahir aliran yang bersifat tradisional. Lahir aliran yang bersifat
antara liberal dengan tradisional. Ketiga corak pemikiran ini telah mewarnai
sejarah pemikiran ilmu ketuhanan dalam Islam. Aliran tersebut yaitu:
a. Mu’tazilah yang
merupakan kaum rasionalis di kalangan muslim, serta menekankan pemakaian akal
pikiran dalam memahami semua ajaran dan keimanan dalam Islam.
b. Qodariah yang berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam
berkehendak dan berbuat. Manusia sendiri yang menghendaki apakah ia akan kafir
atau mukmin dan hal itu yang menyebabkan manusia harus bertanggung jawab atas
perbuatannya.
c. Jabariah yang merupakan
pecahan dari Murji’ah berteori bahwa manusia tidak mempunyai
kemerdekaan dalam berkehendak dan berbuat. Semua tingkah laku manusia
ditentukan dan dipaksa oleh Tuhan.
d. Asy’ariyah dan Maturidiyah yang pendapatnya berada
di antara Qadariah dan Jabariah
Semua aliran itu mewarnai kehidupan pemikiran
ketuhanan dalam kalangan umat islam periode masa lalu. Pada prinsipnya
aliran-aliran tersebut di atas tidak bertentangan dengan ajaran dasar Islam.
Tuhan Menurut Agama-agama Wahyu
Pengkajian manusia tentang Tuhan, yang hanya didasarkan atas pengamatan dan
pengalaman serta pemikiran manusia, tidak akan pernah benar. Sebab Tuhan
merupakan sesuatu yang ghaib, sehingga informasi tentang Tuhan yang hanya
berasal dari manusia biarpun dinyatakan sebagai hasil renungan maupun pemikiran
rasional, tidak akan benar.
Pembuktian Wujud Tuhan
1. Metode Pembuktian Ilmiah Metode baru tidak mengingkari
wujud sesuatu, walaupun belum diuji secara empiris. Di samping itu metode ini juga
tidak menolak analogi antara sesuatu yang tidak terlihat dengan sesuatu yang
telah diamati secara empiris. Hal ini disebut dengan “analogi ilmiah” dan
dianggap sama dengan percobaan empiris. Percobaan dan pengamatan bukanlah
metode sains yang pasti, karena ilmu pengetahuan tidak terbatas pada persoalan
yang dapat diamati dengan hanya penelitian secara empiris saja. Banyak sarjana
percaya padanya hakikat yang tidak dapat diindera secara langsung. Dengan
demikian tidak berarti bahwa agama adalah “iman kepada yang ghaib” dan ilmu
pengetahuan adalah percaya kepada “pengamatan ilmiah”. Sebab, baik agama maupun
ilmu pengetahuan kedua-duanya berlandaskan pada keimanan pada yang ghaib.
2. Keberadaan Alam Membuktikan Adanya Tuhan Adanya alam serta organisasinya yang
menakjubkan dan rahasianya yang pelik, tidak boleh tidak memberikan penjelasan
bahwa ada sesuatu kekuatan yang telah menciptakannya, suatu “Akal” yang tidak
ada batasnya. Setiap manusia normal percaya bahwa dirinya “ada” dan percaya
pula bahwa alam ini “ada”. Dengan dasar itu dan dengan kepercayaan inilah
dijalani setiap bentuk kegiatan ilmiah dan kehidupan.
3. Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Fisika Sampai abad ke-19 pendapat yang
mengatakan bahwa alam menciptakan dirinya sendiri (alam bersifat azali) masih
banyak pengikutnya. Tetapi setelah ditemukan “hukum kedua termodinamika”
(Second law of Thermodynamics),
pernyataan ini telah kehilangan landasan berpijak. Hukum tersebut yang dikenal
dengan hukum keterbatasan energi atau teori pembatasan perubahan energi panas
membuktikan bahwa adanya alam tidak mungkin bersifat azali. Hukum tersebut
menerangkan bahwa energi panas selalu berpindah dari keadaan panas beralih
menjadi tidak panas. Sedang kebalikannya tidak mungkin, yakni energi panas
tidak mungkin berubah dari keadaan yang tidak panas menjadi panas. Perubahan
energi panas dikendalikan oleh keseimbangan antara “energi yang ada” dengan
“energi yang tidak ada”.
4. Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Astronomi Benda alam yang paling dekat dengan
bumi adalah bulan, yang jaraknya dari bumi sekitar 240.000 mil, yang bergerak
mengelilingi bumi dan menyelesaikan setiap edarannya selama dua puluh sembilan
hari sekali. Demikian pula bumi yang terletak 93.000.000.000 mil dari matahari
berputar pada porosnya dengan kecepatan seribu mil per jam dan menempuh garis
edarnya sepanjang 190.000.000 mil setiap setahun sekali. Di samping bumi
terdapat gugus sembilan planet tata surya, termasuk bumi, yang mengelilingi
matahari dengan kecepatan luar biasa.
Matahari tidak berhenti pada suatu tempat tertentu, tetapi ia beredar
bersama-sama dengan planet-planet dan asteroid mengelilingi garis edarnya
dengan kecepatan 600.000 mil per jam. Di samping itu masih ada ribuan sistem
selain “sistem tata surya” kita dan setiap sistem mempunyai kumpulan atau
galaxy sendiri-sendiri. Galaxy-galaxy tersebut juga beredar pada garis edarnya.
Galaxy dimana terletak sistem matahari kita, beredar pada sumbunya dan
menyelesaikan edarannya sekali dalam 200.000.000 tahun cahaya.
2. Keimanan dan Ketakwaan
Pengertian Iman
Kebanyakan orang
menyatakan bahwa kata iman berasal dari kata kerja amina-yu’manu-amanan yang
berarti percaya. Oleh karena itu, iman yang berarti percaya menunjuk sikap
batin yang terletak dalam hati. Akibatnya, orang yang percaya kepada Allah dan
selainnya seperti yang ada dalam rukun iman, walaupun dalam sikap kesehariannya
tidak mencerminkan ketaatan dan kepatuhan (taqwa) kepada yang telah
dipercayainya, masih disebut orang yang beriman. Hal itu disebabkan karena
adanya keyakinan mereka bahwa yang tahu tentang urusan hati manusia adalah
Allah dan dengan membaca dua kalimah syahadat telah menjadi Islam.
Wujud Iman
Akidah Islam dalam
al-Qur’an disebut iman. Iman bukan hanya berarti percaya, melainkan keyakinan
yang mendorong seorang muslim untuk berbuat. Oleh karena itu lapangan iman
sangat luas, bahkan mencakup segala sesuatu yang dilakukan seorang muslim yang
disebut amal saleh. Iman bukan hanya dipercayai atau diucapkan, melainkan
menyatu secara utuh dalam diri seseorang yang dibuktikan dalam perbuatannya. Akidah
Islam adalah bagian yang paling pokok dalam agama Islam. Oleh karena itu
menjadi seorang muslim berarti meyakini dan melaksanakan segala sesuatu yang
diatur dalam ajaran Islam. Seluruh hidupnya didasarkan pada ajaran Islam.
Proses Terbentuknya Iman Spermatozoa dan ovum yang
diproduksi dan dipertemukan atas dasar ketentuan yang digariskan ajaran Allah,
merupakan benih yang baik. Allah menginginkan agar makanan yang dimakan berasal
dari rezeki yang halalanthayyiban.
Pandangan dan sikap hidup seorang ibu yang sedang hamil mempengaruhi psikis
yang dikandungnya. Ibu yang mengandung tidak lepas dari pengaruh suami, maka
secara tidak langsung pandangan dan sikap hidup suami juga berpengaruh secara
psikologis terhadap bayi yang sedang dikandung. Oleh karena jika seseorang
menginginkan anaknya kelak menjadi mukmin yang muttaqin, maka isteri hendaknya berpandangan dan bersikap sesuai
dengan yang dikehendaki Allah.
Berbagai pengaruh terhadap seseorang akan mengarahkan iman/kepribadian
seseorang, baik yang datang dari lingkungan keluarga, masyarakat, pendidikan,
maupun lingkungan termasuk benda-benda mati seperti cuaca, tanah, air, dan
lingkungan flora serta fauna. Pengaruh pendidikan keluarga secara langsung
maupun tidak langsung, baik yang disengaja maupun tidak disengaja amat
berpengaruh terhadap iman seseorang. Tingkah laku orang tua dalam rumah tangga
senantiasa merupakan contoh dan teladan bagi anak-anak. Tingkah laku yang baik
maupun yang buruk akan ditiru anak-anaknya. Jangan diharapkan anak berperilaku
baik, apabila orang tuanya selalu melakukan perbuatan yang tercela. Dalam hal
ini Nabi SAW bersabda, “Setiap anak, lahir membawa fitrah. Orang tuanya yang
berperan menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.
Tanda-tanda Orang
Beriman Jika disebut nama Allah, maka
hatinya bergetar dan berusaha agar ilmu Allah tidak lepas dari syaraf
memorinya, serta jika dibacakan ayat al-Qur’an, maka bergejolak hatinya untuk
segera melaksanakannya (al-Anfal:
2). Dia akan memahami ayat yang tidak dia pahami.
- Senantiasa tawakal, yaitu
bekerja keras berdasarkan kerangka ilmu Allah, diiringi dengan doa, yaitu
harapan untuk tetap hidup dengan ajaran Allah menurut Sunnah Rasul
- Tertib dalam melaksanakan
shalat dan selalu menjaga pelaksanaannya
- Menafkahkan rezeki yang
diterimanya
- Menghindari perkataan yang
tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan
- Memelihara amanah dan menepati
janji
- Berjihad di jalan Allah dan
suka menolong.
- Tidak meninggalkan pertemuan
sebelum meminta izin
Akidah Islam sebagai
keyakinan membentuk perilaku bahkan mempengaruhi kehidupan seorang muslim. Abu
A’la Maudadi menyebutkan tanda orang beriman sebagai berikut:
- Menjauhkan diri dari pandangan
yang sempit dan picik.
- Mempunyai kepercayaan terhadap
diri sendiri dan tahu harga diri
- Mempunyai sifat rendah hati dan
khidmat
- Senantiasa jujur dan adil
- Tidak bersifat murung dan putus
asa dalam menghadapi setiap persoalan dan situasi
- Mempunyai pendirian teguh,
kesabaran, ketabahan, dan optimisme.
- Mempunyai sifat ksatria,
semangat dan berani, tidak gentar menghadapi resiko, bahkan tidak takut
kepada maut.
- Mempunyai sikap hidup damai dan
ridha.
- Patuh, taat, dan disiplin
menjalankan peraturan Ilahi.
Korelasi Keimanan dan Ketakwaan Keimanan pada keesaan Allah yang
dikenal dengan istilah tauhid dibagi menjadi dua, yaitu tauhid teoritis dan tauhid praktis. Tauhid teoritis
adalah tauhid yang membahas tentang keesaan Zat, keesaan Sifat, dan keesaaan
Perbuatan Tuhan. Pembahasan keesaan Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan berkaitan
dengan kepercayaan, pengetahuan, persepsi, dan pemikiran atau konsep tentang
Tuhan. Konsekuensi logis tauhid teoritis adalah pengakuan yang ikhlas bahwa
Allah adalah satu-satunya Wujud Mutlak, yang menjadi sumber semua wujud.
3. Implementasi Iman dan Takwa dalam Kehidupan Modern.
Problematika, Tantangan, dan Resiko dalam Kehidupan Modern
·
Di antara problematika dalam kehidupan
modern adalah masalah sosial-budaya yang sudah established, sehingga sulit sekali memperbaikinya. Alam pikiran
bangsa Indonesia adalah majemuk (pluralistik), sehingga pergaulan hidupnya
selalu dipenuhi oleh konflik baik sesama orang Islam maupun orang Islam dengan
non-Islam.
Pada millenium ketiga, bangsa Indonesia
dideskripsikan sebagai masyarakat yang antara satu dengan lainnya saling
bermusuhan. Hal itu digambarkan oleh Ali Imran: 103, sebagai kehidupan yang
terlibat dalam wujud saling bermusuhan (idz
kuntum a’daa’an), yaitu suatu wujud kehidupan yang berada pada ancaman
kehancuran.
·
Adopsi modernisme (werternisme), kendatipun tidak secara total, yang
dilakukan bangsa Indonesia selama ini, telah menempatkan bangsa Indonesia
menjadi bangsa yang semi naturalis. Di sisi lain, diadopsinya idealisme juga
telah menjadikan bangsa Indonesia menjadi pengkhayal. Adanya tarik menarik
antara kekuatan idealisme dan naturalisme menjadikan bangsa Indonesia bersikap
tidak menentu. Oleh karena itu, kehidupannya selalu terombang-ambing oleh
isme-isme tersebut.
·
Secara ekonomi bangsa Indonesia semakin
tambah terpuruk. Hal ini karena diadopsinya sistem kapitalisme dan melahirkan
korupsi besar-besaran. Sedangkan di bidang politik, selalu muncul konflik di
antara partai dan semakin jauhnya anggota parlemen dengan nilai-nilai qur’ani,
karena pragmatis dan oportunis.
·
Di bidang sosial banyak muncul masalah.
Berbagai tindakan kriminal sering terjadi dan pelanggaran terhadap norma-norma
bisa dilakukan oleh anggota masyarakat. Lebih memprihatinkan lagi adalah
tindakan penyalahgunaan NARKOBA oleh anak-anak sekolah, mahasiswa, serta
masyarakat. Di samping itu masih terdapat bermacam-macam masalah yang dihadapi
bangsa Indonesia dalam kehidupan modern.
·
Untuk membebaskan bangsa Indonesia dari
berbagai persoalan di atas, perlu diadakan revolusi pandangan. Dalam kaitan
ini, iman dan taqwa yang dapat berperan menyelesaikan problema dan tantangan
kehidupan modern tersebut.
Peran Iman dan Takwa dalam Menjawa Problema dan Tantangan Kehidupan Modern
Pengaruh iman terhadap kehidupan manusia sangat besar. Berikut ini
dikemukakan beberapa pokok manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan manusia.
1. Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda 2. Iman menanamkan semangat berani
menghadapi maut 3. Iman menanamkan sikap “self help” dalam
kehidupan 4. Iman memberikan katentraman jiwa
Golongan-golongan dalam islam
Dalam perkembangannya, golongan – golongan dalam Islam yang
berlainan aqidah semakin banyak bermunculan. Berikut adalah golongan –
golongannya:
1) Ahlussunnah wal Jama’ah
Ahlussunnah adalah satu – satunya aliran yang meyakini aqidah
Islam secara lurus sesuai apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nama
Ahlussunnah wal Jama’ah sendiri memiliki arti pengikut sunnah Nabi Muhammad saw
dan para Khulafa ur Rasyidin sahabat beliau. Ahlussunnah adalah golongan yang
disebutkan dalam hadits sebagai satu – satunya aliran yang pengikutnya akan
masuk surga.
2) Syi’ah
Golongan Syi’ah menyebut diri mereka sebagai “pengikut Ali bin
Abi Thalib ra”. Golongan Syi’ah berkeyakinan bahwa khalifah yang sah
sepeninggal Nabi Muhammad saw hanyalah Sayidina Ali bin Abi Thalib
ra. Pendiri golongan ini adalah Abdullah bin Saba’, seorang pendeta Yahudi
dari Yaman yang masuk Islam. 3)
Khawarij
Golongan Khawarij didirikan oleh kumpulan orang – orang yang
membenci Mu’awiyah karena ia melawan kekhalifahan yang sah, sekaligus membenci
khalifah Ali bin Abi Thalib yang mereka anggap lemah dalam menegakkan kebenaran
karena mau diajak berunding damai oleh pihak Mu’awiyah yang hampir kalah dalam
Perang Siffin.
4) Murji’ah
Golongan Murji’ah adalah orang – orang yang menjauhkan diri dari
pertikaian politik di awal abad 1 Hijriyah pada masa kekhalifahan Sayidina Ali
bin Abi Thalib ra.
5) Mu’tazilah
Nama Mu’tazilah mengacu pada sebutan untuk pendirinya, Washil bin
Atha’. Washil bin Atha’ menentang pelajaran yang diberikan gurunya berdasarkan
Al-Qur’an dan hadits, serta membuat ajaran baru berdasarkan logika.
6) Qadariyah
Golongan Qadariyah adalah golongan yang memiliki paham“seluruh
aktivitas manusia adalah hasil keinginan manusia itu sendiri tanpa ada campur
tangan Tuhan”. Golongan ini merupakan cabang dari Mu’tazilah, karena paham
Qadariyah lahir dari pemikiran Mu’tazilah.
7) Jabariyah
Golongan Jabariyah adalah golongan yang memiliki keyakinan “Seluruh aktivitas manusia
merupakan kemauan Tuhan. Golongan Jabariyah
didirikan oleh Jaham bin Safwan, sekretaris Harits bin Sureih, pejabat daerah
Khurasan pada era pemerintahan Bani Umayyah.
8) Najariyah
Golongan Najariyah didirikan oleh murid Basyar Al-Marisi, salah seorang
guru besar penganut aliran Mu’tazilah, yaitu Abu Abdillah Husein bin Muhammad
An-Najar.
9) Musyabihah
Golongan Musyabihah adalah orang – orang yang menyerupakan Allah
swt dengan makhlukNya. Hal ini dikarenakan mereka menafsirkan ayat – ayat
Qur’an hanya berdasarkan makna lugasnya, sedangkan banyak sekali ayat – ayat
Qur’an yang justru maknanya adalah berupa kiasan.
10) Wahabi
Paham Wahabi didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Nama
Wahabi mengacu pada nama orang tua pendiri aliran ini, yaitu Abdul Wahab.
Muhammad bin Abdul Wahab lahir di Desa ‘Ainiyah, sebuah desa kecil di jazirah
Arab, pada tahun 1115 H.
11) Ahmadiyah
Nama Ahmadiyah diambil dari nama pendirinya yaitu Mirza Gulam
Ahmad. Mirza Gulam Ahmad lahir di Desa Qadiyan, Punjab, Pakistan-pada tahun
1836 M. Mirza Gulam Ahmad menobatkan dirinya sebagai nabi setelah Nabi Muhammad
saw.
10 point
1.
Pengertian tuhan.
2.
Sejarah Pemikiran Manusia Tentang Tuhan.
3.
Tuhan Menurut Agama-agama Wahyu.
4.
Pembuktian Wujud Tuhan.
5.
Pengertian Iman
6.
Wujud Iman
7.
Korelasi Keimanan dan Ketakwaan
8.
Problematika, Tantangan, dan Resiko
dalam Kehidupan Modern.
9.
Peran Iman dan Takwa dalam Menjawab
Problema dan Tantangan Kehidupan Modern.
10.
Golongan-golongan dalam islam
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Semua yang ada didunia ini tidak mungkin bisa terbentuk begitu saja.
Pasti ada campur tangan sesuatu zat yang membuat semua ini. Jadi kita perlu tau
siapa yang membuat semua ini bisa ada dan mempelajari lebih dalam. Contohnya :
1)
Semua makhluk didunia ini lahir pasti ada penyebabnya, pasti ada
penciptanya, dan penciptanya itu adalah Allah tuhan bagi seluruh makhluk.
2)
Keimanan itu tidak hanya diucapkan lewat bibir, tapi juga harus
diyakini dalam hati, dan dibuktikan lewat perbuatan
3)
Iman dapat membuat orang untuk melakukan apa yang diperintahkan dan apa
yang dilarang oleh keyakinannya tersebut atau dengan kata lain iman dapat
membentuk orang jadi bertaqwa.
4)
Takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhkan larangannya.
5)
Iman adalah percaya pada pandangan dan sikap hidup dengan ajaran Allah,
yaitu al-Qur’an menurut Sunnah Rasul, atau dengan selain ajaran Allah, yang
terwujud ke dalam ucapan dan perbuatan.
SARAN
Semoga makalah ini
bisa menjadi referensi untuk semua orang dan bisa membuat semua orang islam
menjadi lebih paham tentang ketuhanan dalam islam.
DAFTAR PUSTAKA
hammamabdur.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar